Menurut Zamakhsyari, elemen dasar pondok terdiri dari pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, santri, dan kiai. Sebuah pesantren pada dasarnya sebuah asrama pendidikan Islam tradisonal di mana para santrinya tinggal dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan “kiai”. Asrama untuk para santri tersebut berada dalam lingkungan komplek pesantren di mana kiai bertempat tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain.
Selain asrama, Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dengan pesantren karena dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktik sembayang lima waktu, khutbah dan sembahyang jum’at, dan mengajar kitab-kitab Islam klasik.
Elemen lain pesantren adalah pengajaran kitab-kitab Islam Kalsik terutama karangan-karangan ulama yang menganut paham syafi’iyyah yang merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkunagn pesantren. Tujaun utama pengajaran ini ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan dapat digolongkan kedalam delapan kelompok: (1) Nahwu-Sharaf (syntax-marfologi); (2) Fiqih; (3) Ushul Fiqih; (4) Hadis; (5) Tafsir; (6) Tauhid; (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabangcabang lain seperti Tarikh dan Balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari jilid-jilid tebal mengenai hadis, tafsie, fqih, ushul fiqih, dan tasawuf. Kesemuanya ini dapat pula digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni: (1) kitab-kitab dasar; (2) kitab-kitab tingkah menengah; (3) kitab-kitab besar.
Elemen pesantren lainnya adalah santri. Menurut pengertian yang dipakai dalam lingkungan pesantren, seorang alim hanya bisa disebut kiai bilamana memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren yang dipimpinnya untuk mempelajari kitab-kitab Islam kalsik. Terdapat dua kelompok santri yakni satri mukim dan santri kalong.
Elemen terakhir adalah kiai. Kiai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Ia seringkali bahkan merupakan pendirinya. Sudah sewajarnya bahwa pertumbuhan suatu pesantren semata-mata bergantung kepada kemampuan pribadi kiainya. Kebanyakan kiai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil di mana kiai merupakan sumber mutlak dari kekuatan dan kewenangan dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. Sejak Islam masuk ke Jawa para kiai telah menduduki kdudukan sosial yang tinggi. Meskipun kebanyakan kiai tinggal di daerah perdesaan, mereka merupakan bagian dari kelompok elit dalam struktur sosial, politik dan ekonomi masyarakat Jawa.
Karena pesantren mengalami perkembangan, maka beberapa praktisi pendidikan pesantren kemudian merumuskan elemen-elemen pesantren, Muhammad Idris Jauhari dan Muhammad Tidjani Djauhari menyatakan bahwa elemen-elemen pesantren itu terdiri dari: Kiai yang ikhlas, disegani dan diharmati serta menjadi panutan santri dan masyarakat; santri yang mukim dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar, taat dan percaya sepenuhnya kepada kiai dan seluruh pembantunya; nilai dasar, jiwa dan tradisi kepesantrenan yang bersumber dari ajaran Islam dan budaya bangsa Indonesia, serta menjadi dasar, sumber acuan, dan bingkai seluruh kegiatan kiai dan santri sehari-hari; program pendidikan Islam yang berlangsung terpadu selama 24 jam, dengan penekanan khusus pada pengajaran seluk beluk agama Islam; masjid dan pondok sebagai tempat ibadah dan belajar serta tempat tinggal santri sehari-hari; dukungan masyarakat sekitar sebagai bukti bahwa pesantren adalah lembaga yang tumbuh karena tuntutan masyarakat, berasal, dikelola dan untuk kepentingan masyarakat.
Elemen pesantren yang disampaikan oleh praktisi pendidikan pesantren di atas lebih mengacu pada integrasi antara sistem muallimin dan sistem pesantren atau sistem muallimin yang berjiwa pesantren. Dua pendapat di atas menunjukkan masih belum adanya kesimpulan yang memadai tentang elemen pesantren yang dapat memotret semua dinamika perkembangan pesantren terutama pada masa belakangan ini, di mana pesantren sudah berkembang sedemikain rupa mengikuti arah perkembangan dunia dan pendidikan di Indonesia.

0 comments:
Post a Comment