Monday, December 4, 2017

Berguru dengan Si Gila di Malam yang Gila

Hari ini mungkin anugrah teraneh di dalam hayat ini namun juga awal kebingungan saya. Kebingungan yang mungkin hampir menandingi perumusan konsep skripsiku sebagai bahan tuntutan kajur kesayanganku, dan andai kata ini pertanyaan terakhir pada kuis "who wants to be a miilionere" INDONESIA yang hadir di RCTI pada tahun 2010-an saya yakin tidak akan ada yang bisa memecahkanya. Mungkin interpretasi ini terlalu lebay namun munkin kata-kata ini yang pantas menjadi wakil perasaan saya pada saat ini.


Di Jalan Perjuangan Cirebon tempat dimana berdirinya bangunan produksi sarjana. Yang semua orang pasti tahu betul bahwa di jalan ini pula berdiri dengan tegak lima Arca suci kaum intelektual yang berdasi dan berosi kata-kata penuh mantra tentang mitos masa depan. Namun di tempat ini juga diisi kaum pemuda berlidah pedas bertopeng keadilan, kaum fungsionaris yang mengaku agen perubahan, kaum berkasta waisya dan sudra yang menjalani hidup sebagai formalitas untuk masa depan, semuanya berjalan dan memiliki warnanya sendiri. Namun ada beberapa sosok, satu atau tiga orang yang membuat saya harus bingung.

Setiap kali saya harus bertemu dengan orang tersebut. Bagaimana saya harus tidak bingung, setiap kali saya bertemu dengan orang yang seperti itu, Saya bingung! Masuk kegolongan yang mana orang seperti itu? Mungkin kah saya golongkan mereka sebagai putra-putri dari dewa zeus yang dibebaskan untuk hidup di tempat ini dengan sebebas bebasnya! Atau saya harus golongkan mereka dengan binatang, sampah dan se-isinya berdasarkan pandangan setiap orang yang melihat dengan jijik dan acuh yang hanya pantas untuk dibuang. Ataukah mungkin saya menempatkan golongan mereka hampir dekat dengan orang-orang suci yang memiliki maqom yang tinggi, dengan tanda-tandanya! Hidup dengan penampilan yang tidak mempersoalkan eksistensi namun esensi hidup. Bermukim dengan keyakinannya sendiri tanpa mempersoalkan besar kecilnya tempat yang dia huni atau bahkan beratap atau tidaknya tempat yang dia tempati! Atau mungkin sorot mata dan senyumannya yang saya sangat yakin bahwa itu benar-benar ikhlas diberikan kepada orang yang mengusir dan menghinanya. Mungkin memang benar bukan kapasitas saya untuk dapat menilai setiap orang dengan kapasitas saya seperti ini, tapi kenapa tidak saya harus bersyukur lantaran walau dengan pikiran yang mungkin sebagian orang angap ini hal sia-sia saya masih bisa berfikir. Yah minimalnya saya masih merasa sebagai makhluk berakal.

Sekitar jam 17:30 WIB di tempat kontemplasiku saung juang Tepatnya di cafe yang bernama "Sabda Kopi" disaat aku sedang berfikir membuat garapan berita komunitas motor yang mengadakan bakti sosial menggalang dana untuk korban bencana banjir. Wanita yang berusia sekitar 35 tahun, berpakaian daster yang kumuh, berpenampilan compang camping, serta kakinya yang terdapat luka atau borok yang menjijikan, berdiri sekitar tujuh langkah di hadapan tempat saya duduk, wanita itu terlihat seperti orang yang sedang berbicara pada teman-temannya, kemudian dia mengambil pot untuk dimainkan sesekali dia bertanya orang yang ada di sekitar kafe, namun suaranya tidak jelas, perbuatannya yang hampir setiap orang menganggapnya aneh dan miring membuatnya harus diusir oleh penjaga kafe tersebut. Dan pada saat itu pula saya menemukan hal yang sangat aneh saya rasakan, ketika saya melihat senyuman yang saya sangat yakin bahwa senyuman itu benar-benar tulus terpancar dari raut wajahnya yang lusuh dan basah terguyur oleh hujan pada sore itu. Entah yang saya rasakan ini rasa iba, kasihan atau jijik kepada wanita itu, perasaan yang tidak menentu itu benar-benar memecahkan konsentrasi pada konsep berita yang saya akan buat.

Ba’da shalat isya ketika saya hendak melajutkan berita yang saya ingin tulis. Wanita itu datang lagi dan berjalan menuju toilet yang ada di pojok parkiran kafe. Entah apa yang ingin dia lakukan! Namun yang nampak hanya rawut wajah kebingungan yang terlihat dari wajahnya, kemudian saya merasa kaget saat wanita separuh baya tersebut diusir saat sampai di depan pintu kamar mandi tersebut oleh penjaga kafe. Entah apa karna wanita tersebut yang salah lantaran perbuatannya yang dinilai sembrono oleh pemilik kafe atau sikap toleransi yang kurang saya miliki karna menilai perbuatan penjaga kefe yang kurang pantas untuk dilakukan. Tapi pada saat itu saya sadar perasaan saat saya melihat wanita itu bukan hanya bisa dikatakan simpati namun juga empati.

Perasaan ini yang memerintahkan diri saya untuk membeli satu potong roti dan sebotol minuman untuk diberikan kepada wanita tersebut. Setelahnya saya membeli dan hendak memberikannya kepada wanita itu, saya benar-benar merasa kaget saat mendengar dari lisannya mengucapkan Alhamdulillah simbol kata syukur kepada tuhan yang mungkin saya lupakan saat mendapatkan sebuah nikmat. Hal yang membuat saya takjub kembali dimana saya dipinta bersalaman oleh wanita itu, awal perasaan saya mungkin bisa dikatakan jijik karena saya melihat sebelumnya tangan yang digunakannya untuk bersalaman itu dia gunakan untuk mengusapkan boroknya namun perasaan itu tertutupi dengan perasaan yang saya rasakan sebelumnya.

Ya Allah saya tidak pernah membayangkan bahwa dia menggenggam tangan saya dan menanyakan nama saya. Yang mungkin sering saya merasakan bersalaman dan berkenalan pejabat, orang kaya, ustadz, wanita cantik bahkan orang yang merasa dirinya alim dan berakal. Namun itu semua mungkin terasa kosong bila dibandingkan dengan saat itu. Ya Allah berjabatan tangan dari seseorang yang hampir setiap orang tidak menganggapnya sebagai manusia dalam kehidupan yang sama dan wajar.

Bagaimana saya tidak sebutkan seperti itu: saya berjabat tangan dengan Rektor, Kapolres, Ustadz, juga Santri, saya tidak merasakan hal yang istimewa tapi saat saya berjabat tangan dengan beliau ini, hati saya merasa terharu penuh kebanggaan dan pelajaran yang saya rasakan”. Beli mungkin, toh memang ga ada pejabat atau rektor yang gila yang berjabatan tangan dengan saya. Apalagi seorang ustadz atau orang yang terpelajar.

Kebingungan saya bertambah kembali saat wanita itu menyapa saya dengan ramah dan memberikan senyuman yang tulus jauh dari pada kemunafikan. Dan setelahnya saat saya telah duduk di patilasan untuk berfikir, wanita itu datang lagi dan berjalan mondar mandir serta membuang air di pot-pot bunga yang sudah rapih ditata oleh penjaga kafe sehingga untuk sekian kalinya wanita itu harus diusir dan lagi-lagi wanita itupun memberikan senyumannya. Mungkinkah ada seseorang yang bisa berpikir orang yang sehat jiwanya melakukan hal demikian?

Tetapi apakah guruku di hari ini itu benar-benar tidak sehat jiwanya? Apakah ia melakukan eksploitasi sumber daya alam, hegemoni manusia? Apakah ia mengadu domba, memfitnah seseorang demi kepentingan pribadi? Mudah menyalahkan dan menyakiti hati seseorang? Ataukah dia pernah membunuh raga atau jiwa seseorang? Wanita itu yang berjalan tanpa arah tersenyum dengan ikhlas walau diusir dan dianggap sampah oleh semua orang yang melihatnya. Mungkin sebenarnya dia berkata untuk orang yang melihatnya dengan angkuh dan sok suci: kenapa kamu marah? Bermuka masam dan berwajah duka? Kamu punya tempat yang kamu bisa tinggali kan? Bisa duduk dengan santai meminum kopi sambil ngudut sepuasnya? Coba lihat aku, tanpa ada tempat yang pasti untuk tidur, berjalan tanpa tujuan, tak mendapatkan kepastian mendapatkan makan, janganpun buat besok buat nanti saja belum terpikirkan, tak bersandang dengan gelar sarjana sebagaimana orang akan dihormati dengan gelar tersebut, janganpun dihormati dipandang dengan pandangan yang biasa aja aku hampir tidak pernah rasakan. Apalagi kesempatan bersalaman dengan presiden, pejabat, rektor terasa mustahil untuk aku rasakan, wong bersalaman dengan orang biasa aja aku dianggapnya menjijikan. Tapi aku tetap tersenyum toh kepada semua orang.

Jam 04:09 pagi saat saya ingin mengakhiri tulisan ini wanita itu kembali lagi datang di depan pas saya duduk dan dengan senyum khasnya dia menyapa dengan lembut dan berkata: kenapa masih di sini? Pada saat itu yang hanya bisa saya lakukan hanya bisa diam dan mengangguk. Namun hal yang istimewa bahwa di sosoknya yang orang lihat manusia yang kosong tak berharga. Saya menemukan anugerah hidup petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Ya Allah. Kulantunkan syukurku kepada-Mu atas malam ini engkau pertemukan aku dengan guru yang datang dengan tanda kegilaannya. Yang tidak bersalaman denganku dengan kemunafikan dan kepentingan, yang sopan namun dengki di balik hadapanku, yang tidak mungungkapkan kebenaran tanpa fakta dan tanpa jauh dari rasa ego. Yang tidak mengukur semuanya dapat dinegosiasi oleh uang. Yang tidak menuntutku apa-apa namun memberiku hakikat hidup, hikmah dan ilmu yang tidak akan aku peroleh dari kaum cendikiawan dan kaum intelektual, dari kaum kapitalis, hedonis, oportunis, borjuis yang semuanya memegang kebenaran atas egonya sendiri. Yang tidak cemburu dan mencurigai demi melindungi ambisi pribadi dan berdasarkan kepentingan subjektif, yang tidak menyantet aku, keluargaku atau orang terdekatku demi mencapai segala ambisinya. Yang tidak bersaing kepadaku kecuali dalam perlombaan mencari ridho Allah.

Entah apa yang terjadi pada malam ini. Biarlah dia datang dan pergi dengan tanda-tanda kegilaannya. Mungkin suatu saat nanti sosok itu akan muncul kembali dari pertapaan dan mengajarkan di malam hari kepada bangsa yang sedang terpecah belah ini dengan segala kegilaan. [Ust. Hamdi Muntadir]

1 comment:

Contact

Ponpes Annidhom

Pondok Pesantren Annidhom didirikan dan diasuh oleh al-Mukarom KH. Ja’far Shodiq, beliau adalah Tokoh Kyai/Mubaligh Kondang se-Wilayah III Cirebon, sekaligus sosok ulama/guru yang sabar, komitmen dan penuh tanggungjawab.

Alamat:

Jl. Sekar Kemuning RT.04 RW.03 Karyamulya Kesambi Cirebon 45131.