Jl. Sekar Kemuning No. 46 RT. 04 RW. 03 Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi Kota Cirebon 45135.

Profil Pondok Pendaftaran

Ayo Mondok disini!

Fasilitas

Mushola, Asrama Putra dan Putri, Ruang belajar, Madrasah, Kantin Pondok, Kantor, MCK bersih, Angkot An-Nidhom, dll.

Selengkapnya

Tata Tertib

Selalu mentaati syariat Islam; Menjaga nama baik pondok pesantren; dan Taat kepada kyai serta hormat kepada ustadz.

Selengkapnya

Kitab Kuning

Aqidatul Awam; Al-Jurumiyah; Amrithi; Alfiyah; Amshilati Tasrifiyah; Kifayatul Ahyar; Fathul Qarib; Bulughul Maram, dll.

Selengkapnya

Pendaftaran

Pendaftaran dibuka di Sekretariat Pondok Pesantren Annidhom atau bisa langsung Sowan/Silaturahmi ke Pengasuh/Kyai.

Selengkapnya

Karya Santri

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, November 27, 2018

Ku Tinggalkan dia Karena Dia Oleh Messy

Namaku Nita (nama samaran), aku anak bungsu dari empat bersaudara. Aku hidup di lingkungan yang tidak terlalu paham dengan agama, meskipun agama yang ku anut adalah islam. Keluargaku tak pernah memaksa ku untuk menuruti piihan mereka, mereka selalu mensupport apapun pilihan yang ku pilih, asalkan aku bahagia dengan pilihanku. Dalam hal ibadah seperti shalat, mereka tak pernah memaksaku untuk Melaksanakannya meskipun terkadang mereka megingatkanku. Dalam hal syariat seperti menggunakan hijab, mereka tak pernah menuntutku untuk mengenakannya meskipun terkadang mereka gerah dengan pakaian ketatku.

Masa kecilku penuh dengan kebahagiaan, suka ria dan canda tawa. Mereka sangat menyayangiku, terbiasa memanjakanku sehingga membuatku menjadi anak yang egois dan pantang mengalah. Apapun yang ku inginkan harus terpenuhi, apapun yang ku minta harus ku miliki. Terserah bagaimana cara untuk memenuhi keinginanku, yang penting semua keinginan ku harus tersedia. Aku tidak ingin menjadi yang kedua di hati siapapun, aku hanya ingin menjadi yang pertama dan terutama dihati siapapun termasuk mereka (keluarga ku).

Dari kecil hingga duduk di bangku SMP, aku nyaman dengan pakaian yang serba mini. Hmm, dibilang mini juga tidak terlalu mini, setidaknya pakaian yang ku kenakan memperlihatkan aurat yang seharusnya tidak patut diumbar. Aku bangga akan hal itu, aku bangga jika kulit mulus ku, hitam rambutku dan lekuk tubuhku diminati dan dipuji laki-laki asing. Bagiku, itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri untukku.

Seseksi apapun aku saat itu, aku juga sempat menggunakan hijab di sekolah dan di masjid (sekedar mengikuti aturan). Aku tidak suka dengan wanita yang berhijab apalagi yang berhijab syari (cadar). Aku gerah dengan pakaian yang longgar dan lebar, menurutku mereka yang seperti itu terlalu ekstrem dan fanatik. Islam itu mudah, lantas untuk apa membuat hidup ini dipersulit.

Hari berganti hari dan waktu terus berlalu. Aku mulai mengenal cinta lewat dia yang Tuhan titipkan untukku sementara, tapi dia tak sebaik yang aku pikirkan. Cinta kami hanya bertahan sekejap, cukup rentang waktu seminggu. Dia meninggalkanku dan memilih wanita lain yang ternyata adalah sahabatku. Pengkhianatan yang sungguh menyakitkan namun tak membuatku jera dalam petualangan cinta. Putus Cinta membuat ku menderita tapi tak membuat ku sadar untuk segera kembali ke Pencipta (taubat). Aku malah mencari dia yang lain yang ku harap bisa membuatku bahagia, ternyata yang ku dapati sia-sia dan hanya menambah luka. Dia yang sekarang tak jauh berbeda dengan dia dulu, sama-sama hidung belang dan sama penebar janji palsu.

Aku memang mengenal istilah pacaran dan mengetahui pacaran itu haram tapi tak paham kenapa Islam mengharamkan pacaran. Sepertinya, Tuhan tak membiarkanku jatuh terlalu dalam, aku masih mengenal batasan agama dan batasan adat dalam pacaran. Tak ada boncengan, tak ada berduaan dan tak ada pegangan. Yang ada hanya smsan, telpon dan ketemuan, itupun pada malam mingguan. Pacaran hanya bertahan sekejap, cukup seminggu saja dan setelah itu dia pergi tak tau arah yang meninggalkanku dengan luka tanpa darah.

Setelah itu tak ada lagi istilah pacaran, bukan karena aku memahami bahwa pacaran itu haram. Hanya saja aku tak ingin penderitaan dan pengkhianatan ini berkelanjutan, cukup dua minggu yang kelewatan. Kemudian aku disibukkan dengan organisasi keislaman, bukan karena ku ingin mempertebalkan iman hanya saja ingin menambah teman disebabkan daku kesepian. Aku tidak terlalu tertarik dengan hal yang berbau keislaman, namun cahaya iman itu selalu datang yang membuatku sedikit tersadar bahwa shalat dan hijab adalah suatu kewajiban.

Perintah shalat mulai ku lakukan meski terkadang sering terlupakan namun tetap ku kerjakan. Perlahan hijab mulai ku kenakan meski hanya untuk bepergian, belum penuh sampai keseharian. Belajar nyaman saat ku kenakan membuat pakaian mini terlupakan. Pakaian ketat membentuk lekuk tubuh masih ku kenakan, setidaknya baju panjang lengan dan hijab mulai aku kenakan.

Gerbang SMA telah menanti ku, masa putih abu-abu akan segera dimulai. Seragam longgar melekat pada tubuh. Tak butuh waktu lama, seragam longgar seketika berubah menjadi seragam bayi. Seragam ketat, membentuk lekuk tubuh dan berukuran sepinggang, merupakan ide dari kakak ku. Selain itu, dilengkapi dengan kerudung tipis yang transparan sehingga dengan mudah orang memandang rambutku secara cuma-cuma.

Awal Hijrah dan Mengkaji Islam ...

Aku baru menduduki kelas XI (2 SMA), ini merupakan titik balik pintu hijrah ku. Hidayah yang selama ini menyapaku tak pernah ku gapai malah ku abaikan. Hidupku terlalu di disibukkan dengan gemerlap dunia, memang senang tapi hati tak tenang. Jenuh dan bosan itulah yang ku rasakan, hidup yang seperti ini tanpa ada landasan keimanan. Terkadang aku iri dengan hidup mereka, sederhana namun gelak tawa selalu menghiasi bibirnya. Berbeda dengan hidupku, lebih dari sederhana namun sulit untuk menciptakan senyum di bibir. Lantas mengapa demikian? Yahh, hidupku hanya berlandaskan hawa nafsu, berbeda dengan hidup mereka yang berlandaskan keimanan.

Hidayah itu datang lewat kakakku, sebut saja namanya Risa (nama samaran) ...

Yang terlebih dulu hijrah dan mengkaji islam. Ia mengenalkan ku dengan wanita yang longgar bajunya, lebar kerudungnya, dan lembut tutur katanya, ramah sikapnya dan nyaman berada didekatnya. Kakak itu bernama Sinta (nama sasaran). Aku mengikuti kajian bersama dengan empat orang sahabatku yang bernama Firli, Reva, Lusi yang dan Noza. Kajian itu dilakukan secara intensif (sekali seminggu) yang rutin aku ikuti bersama sahabatku.

Hijrah butuh proses dan aku sangat menikmati proses itu. Perlahan tapi pasti, aku mulai mengubah penampilan dan sikap. Dari segi penampilan, belajar mencoba menggunakan kerudung secara istiqamah dalam keseharian maupun saat bepergian dan belajar menggunakan pakaian yang longgar meskipun masih belum syari (memakai rok atau celana). Sempat belajar menggunakan gamis meski masih belum nyaman dan terbiasa. Sehingga pada suatu ketika aku memantapkan diri untuk menggunakan gamis secara istiqamah (termasuk seragam sekolah yang di sulap menjadi gamis). Dari segi sikap, rutin melaksanakan amalan wajib dan melaksanakan amalan sunah serta dilengkapi dengan amal kebaikan lainnya.

Kajian intensif berjalan lancar setiap minggu nya, pembahasan yang dibahas sangat menarik mengenai islam. Banyak pemahaman islam yang aku dan mereka dapati dari kajian, banyak perjuangan yang kami hadapi bersama. Termasuk aku yang terkadang menjadi gojek bagi mereka, antar jemput hanya untuk pergi ke kajian. Tapi itu tak masalah bagiku, asalkan sahabatku tetap semangat untuk pergi ke pengajian. Apapun halangan yang menghadang dan bagaimana cuaca yang datang, pengajian tetap dilaksanakan. Sekalipun hujan lebat dan petir, pengajian tetap harus dilaksanakan. Saat itu keadaan aku dan mereka basah kuyup ketika tiba di tempat pengajian namun tak sedikit pun mereka ragu untuk melanjutkan pengajian. Hari berganti hari, semangat aku dan mereka perlahan mulai luntur oleh kesibukan dunia. Yah, kami terlalu disibukkan oleh aktivitas sekolah, semangat itu telah digoyahkan oleh sejumlah kerikil kecil. Pilihan terakhir, kami lebih memilih menghentikan kajian dan fokus pada aktivitas sekolah.

Tak butuh waktu lama, hariku dilalui tanpa ada lagi aktivitas kajian. Hal ini membuat diriku hampa, tak ada lagi siraman rohani yang menyirami jiwa dan ragaku. Rasanya, waktuku berlalu sia-sia jika tidak dihiasi dengan pengajian. Aku tak ingin berdiam diri seperti, nikmat hidayah itu inginku rasakan kembali. Pilihan terbaik adalah melanjutkan kajian lagi, dan alhamdulillah Allah pertemukan dengan sahabat kajian yang baru.

Ku Tinggalkan dia Karena Dia Oleh Messy

Tantangan itu mulai datang ...

Memilih jalan dakwah itu bukanlah pilihan yang mudah. Akan banyak rintangan dan tantangan yang menghadang. Konsekuensi dalam pilihan ini adalah menyebarkan dakwah ke seluruh dunia, agar gelora dakwah itu tidak dirasakan oleh diri sendiri saja melainkan juga dirasakan oleh orang lain. Rasanya, waktuku berlalu sia-sia jika tidak dihiasi dengan pengajian. Aku tak ingin berdiam diri seperti, nikmat hidayah itu inginku rasakan kembali. Pilihan terbaik adalah melanjutkan kajian lagi, dan alhamdulillah Allah pertemukan dengan sahabat kajian yang baru.

Tantangan itu mulai datang ...

Memilih jalan dakwah itu bukanlah pilihan yang mudah. Akan banyak rintangan dan tantangan yang menghadang. Konsekuensi dalam pilihan ini adalah menyebarkan dakwah ke seluruh dunia, agar gelora dakwah itu tidak dirasakan oleh diri sendiri saja melainkan juga dirasakan oleh orang lain. Memang pilihan ini tidaklah mudah, namun harus tetap dipilih. Karena memilih jalan dakwah adalah suatu kewajiban yang harus diemban setiap muslim. Rintangan dan tantangan itu pasti ada, Rasulullah dan para sahabat sudah mengalami, apalagi aku tentu akan mengalami hal yang sama. Apa yang ku alami sekarang tak seberapa apa yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat dulu.

Keluargaku, khususnya mama tak menyukai hijrah ku. Aku dibilang fanatik, ektrim dan radikal. Pakaian syar'i ku dihina seperti orang hamil dan wajahku diklaim lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Memang pilihan ini tidaklah mudah, namun harus tetap dipilih. Karena memilih jalan dakwah adalah suatu kewajiban yang harus diemban setiap muslim. Rintangan dan tantangan itu pasti ada, Rasulullah dan para sahabat sudah mengalami, apalagi aku tentu akan mengalami hal yang sama. Apa yang ku alami sekarang tak seberapa apa yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat dulu.

Keluargaku, khususnya mama tak menyukai hijrah ku. Aku dibilang fanatik, ektrim dan radikal. Pakaian syar'i ku dihina seperti orang hamil dan wajahku diklaim lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Aku tak diperbolehkan lagi untuk ke kajian, fasilitas yang diberikan pun ditahan. Belum lagi kata-kata tetangga yang mengatakan bahwa aku mengikuti organisasi sesat. Tidak sampai disitu, teman-teman yang dulu nya akrab perlahan meninggalkanku.

Dengan hijrah ini, aku tersadar bahwa Allah ingin menyeleksi orang-orang yang berada disekitarku, dan yang terbaik lah Allah titipkan padaku. Tantangan itu terus datang dan tak pernah berhenti sampai sekarang. Tapi allahmdulillah, Allah masih memberikan keimanan yang kokoh untuk ku sehingga masih bertahan di jalan ini. Aku ingin terus bertahan dijalan ini dan takkan berhenti, sampai Allah memanggilku untuk selama-lamanya.


No. Urut: 3
Tanggal: 26/11/2018 23:39

Monday, December 4, 2017

Berguru dengan Si Gila di Malam yang Gila

Hari ini mungkin anugrah teraneh di dalam hayat ini namun juga awal kebingungan saya. Kebingungan yang mungkin hampir menandingi perumusan konsep skripsiku sebagai bahan tuntutan kajur kesayanganku, dan andai kata ini pertanyaan terakhir pada kuis "who wants to be a miilionere" INDONESIA yang hadir di RCTI pada tahun 2010-an saya yakin tidak akan ada yang bisa memecahkanya. Mungkin interpretasi ini terlalu lebay namun munkin kata-kata ini yang pantas menjadi wakil perasaan saya pada saat ini.


Di Jalan Perjuangan Cirebon tempat dimana berdirinya bangunan produksi sarjana. Yang semua orang pasti tahu betul bahwa di jalan ini pula berdiri dengan tegak lima Arca suci kaum intelektual yang berdasi dan berosi kata-kata penuh mantra tentang mitos masa depan. Namun di tempat ini juga diisi kaum pemuda berlidah pedas bertopeng keadilan, kaum fungsionaris yang mengaku agen perubahan, kaum berkasta waisya dan sudra yang menjalani hidup sebagai formalitas untuk masa depan, semuanya berjalan dan memiliki warnanya sendiri. Namun ada beberapa sosok, satu atau tiga orang yang membuat saya harus bingung.

Setiap kali saya harus bertemu dengan orang tersebut. Bagaimana saya harus tidak bingung, setiap kali saya bertemu dengan orang yang seperti itu, Saya bingung! Masuk kegolongan yang mana orang seperti itu? Mungkin kah saya golongkan mereka sebagai putra-putri dari dewa zeus yang dibebaskan untuk hidup di tempat ini dengan sebebas bebasnya! Atau saya harus golongkan mereka dengan binatang, sampah dan se-isinya berdasarkan pandangan setiap orang yang melihat dengan jijik dan acuh yang hanya pantas untuk dibuang. Ataukah mungkin saya menempatkan golongan mereka hampir dekat dengan orang-orang suci yang memiliki maqom yang tinggi, dengan tanda-tandanya! Hidup dengan penampilan yang tidak mempersoalkan eksistensi namun esensi hidup. Bermukim dengan keyakinannya sendiri tanpa mempersoalkan besar kecilnya tempat yang dia huni atau bahkan beratap atau tidaknya tempat yang dia tempati! Atau mungkin sorot mata dan senyumannya yang saya sangat yakin bahwa itu benar-benar ikhlas diberikan kepada orang yang mengusir dan menghinanya. Mungkin memang benar bukan kapasitas saya untuk dapat menilai setiap orang dengan kapasitas saya seperti ini, tapi kenapa tidak saya harus bersyukur lantaran walau dengan pikiran yang mungkin sebagian orang angap ini hal sia-sia saya masih bisa berfikir. Yah minimalnya saya masih merasa sebagai makhluk berakal.

Sekitar jam 17:30 WIB di tempat kontemplasiku saung juang Tepatnya di cafe yang bernama "Sabda Kopi" disaat aku sedang berfikir membuat garapan berita komunitas motor yang mengadakan bakti sosial menggalang dana untuk korban bencana banjir. Wanita yang berusia sekitar 35 tahun, berpakaian daster yang kumuh, berpenampilan compang camping, serta kakinya yang terdapat luka atau borok yang menjijikan, berdiri sekitar tujuh langkah di hadapan tempat saya duduk, wanita itu terlihat seperti orang yang sedang berbicara pada teman-temannya, kemudian dia mengambil pot untuk dimainkan sesekali dia bertanya orang yang ada di sekitar kafe, namun suaranya tidak jelas, perbuatannya yang hampir setiap orang menganggapnya aneh dan miring membuatnya harus diusir oleh penjaga kafe tersebut. Dan pada saat itu pula saya menemukan hal yang sangat aneh saya rasakan, ketika saya melihat senyuman yang saya sangat yakin bahwa senyuman itu benar-benar tulus terpancar dari raut wajahnya yang lusuh dan basah terguyur oleh hujan pada sore itu. Entah yang saya rasakan ini rasa iba, kasihan atau jijik kepada wanita itu, perasaan yang tidak menentu itu benar-benar memecahkan konsentrasi pada konsep berita yang saya akan buat.

Ba’da shalat isya ketika saya hendak melajutkan berita yang saya ingin tulis. Wanita itu datang lagi dan berjalan menuju toilet yang ada di pojok parkiran kafe. Entah apa yang ingin dia lakukan! Namun yang nampak hanya rawut wajah kebingungan yang terlihat dari wajahnya, kemudian saya merasa kaget saat wanita separuh baya tersebut diusir saat sampai di depan pintu kamar mandi tersebut oleh penjaga kafe. Entah apa karna wanita tersebut yang salah lantaran perbuatannya yang dinilai sembrono oleh pemilik kafe atau sikap toleransi yang kurang saya miliki karna menilai perbuatan penjaga kefe yang kurang pantas untuk dilakukan. Tapi pada saat itu saya sadar perasaan saat saya melihat wanita itu bukan hanya bisa dikatakan simpati namun juga empati.

Perasaan ini yang memerintahkan diri saya untuk membeli satu potong roti dan sebotol minuman untuk diberikan kepada wanita tersebut. Setelahnya saya membeli dan hendak memberikannya kepada wanita itu, saya benar-benar merasa kaget saat mendengar dari lisannya mengucapkan Alhamdulillah simbol kata syukur kepada tuhan yang mungkin saya lupakan saat mendapatkan sebuah nikmat. Hal yang membuat saya takjub kembali dimana saya dipinta bersalaman oleh wanita itu, awal perasaan saya mungkin bisa dikatakan jijik karena saya melihat sebelumnya tangan yang digunakannya untuk bersalaman itu dia gunakan untuk mengusapkan boroknya namun perasaan itu tertutupi dengan perasaan yang saya rasakan sebelumnya.

Ya Allah saya tidak pernah membayangkan bahwa dia menggenggam tangan saya dan menanyakan nama saya. Yang mungkin sering saya merasakan bersalaman dan berkenalan pejabat, orang kaya, ustadz, wanita cantik bahkan orang yang merasa dirinya alim dan berakal. Namun itu semua mungkin terasa kosong bila dibandingkan dengan saat itu. Ya Allah berjabatan tangan dari seseorang yang hampir setiap orang tidak menganggapnya sebagai manusia dalam kehidupan yang sama dan wajar.

Bagaimana saya tidak sebutkan seperti itu: saya berjabat tangan dengan Rektor, Kapolres, Ustadz, juga Santri, saya tidak merasakan hal yang istimewa tapi saat saya berjabat tangan dengan beliau ini, hati saya merasa terharu penuh kebanggaan dan pelajaran yang saya rasakan”. Beli mungkin, toh memang ga ada pejabat atau rektor yang gila yang berjabatan tangan dengan saya. Apalagi seorang ustadz atau orang yang terpelajar.

Kebingungan saya bertambah kembali saat wanita itu menyapa saya dengan ramah dan memberikan senyuman yang tulus jauh dari pada kemunafikan. Dan setelahnya saat saya telah duduk di patilasan untuk berfikir, wanita itu datang lagi dan berjalan mondar mandir serta membuang air di pot-pot bunga yang sudah rapih ditata oleh penjaga kafe sehingga untuk sekian kalinya wanita itu harus diusir dan lagi-lagi wanita itupun memberikan senyumannya. Mungkinkah ada seseorang yang bisa berpikir orang yang sehat jiwanya melakukan hal demikian?

Tetapi apakah guruku di hari ini itu benar-benar tidak sehat jiwanya? Apakah ia melakukan eksploitasi sumber daya alam, hegemoni manusia? Apakah ia mengadu domba, memfitnah seseorang demi kepentingan pribadi? Mudah menyalahkan dan menyakiti hati seseorang? Ataukah dia pernah membunuh raga atau jiwa seseorang? Wanita itu yang berjalan tanpa arah tersenyum dengan ikhlas walau diusir dan dianggap sampah oleh semua orang yang melihatnya. Mungkin sebenarnya dia berkata untuk orang yang melihatnya dengan angkuh dan sok suci: kenapa kamu marah? Bermuka masam dan berwajah duka? Kamu punya tempat yang kamu bisa tinggali kan? Bisa duduk dengan santai meminum kopi sambil ngudut sepuasnya? Coba lihat aku, tanpa ada tempat yang pasti untuk tidur, berjalan tanpa tujuan, tak mendapatkan kepastian mendapatkan makan, janganpun buat besok buat nanti saja belum terpikirkan, tak bersandang dengan gelar sarjana sebagaimana orang akan dihormati dengan gelar tersebut, janganpun dihormati dipandang dengan pandangan yang biasa aja aku hampir tidak pernah rasakan. Apalagi kesempatan bersalaman dengan presiden, pejabat, rektor terasa mustahil untuk aku rasakan, wong bersalaman dengan orang biasa aja aku dianggapnya menjijikan. Tapi aku tetap tersenyum toh kepada semua orang.

Jam 04:09 pagi saat saya ingin mengakhiri tulisan ini wanita itu kembali lagi datang di depan pas saya duduk dan dengan senyum khasnya dia menyapa dengan lembut dan berkata: kenapa masih di sini? Pada saat itu yang hanya bisa saya lakukan hanya bisa diam dan mengangguk. Namun hal yang istimewa bahwa di sosoknya yang orang lihat manusia yang kosong tak berharga. Saya menemukan anugerah hidup petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Ya Allah. Kulantunkan syukurku kepada-Mu atas malam ini engkau pertemukan aku dengan guru yang datang dengan tanda kegilaannya. Yang tidak bersalaman denganku dengan kemunafikan dan kepentingan, yang sopan namun dengki di balik hadapanku, yang tidak mungungkapkan kebenaran tanpa fakta dan tanpa jauh dari rasa ego. Yang tidak mengukur semuanya dapat dinegosiasi oleh uang. Yang tidak menuntutku apa-apa namun memberiku hakikat hidup, hikmah dan ilmu yang tidak akan aku peroleh dari kaum cendikiawan dan kaum intelektual, dari kaum kapitalis, hedonis, oportunis, borjuis yang semuanya memegang kebenaran atas egonya sendiri. Yang tidak cemburu dan mencurigai demi melindungi ambisi pribadi dan berdasarkan kepentingan subjektif, yang tidak menyantet aku, keluargaku atau orang terdekatku demi mencapai segala ambisinya. Yang tidak bersaing kepadaku kecuali dalam perlombaan mencari ridho Allah.

Entah apa yang terjadi pada malam ini. Biarlah dia datang dan pergi dengan tanda-tanda kegilaannya. Mungkin suatu saat nanti sosok itu akan muncul kembali dari pertapaan dan mengajarkan di malam hari kepada bangsa yang sedang terpecah belah ini dengan segala kegilaan. [Ust. Hamdi Muntadir]
SHARE IDEMU!
Jadilah santri-santri yang kreatif!
KIRIM DISINI!
Form kirim tulisan [Disini]
5 Tulisan
Santri akan mendapat pulsa 10k

Bersama Kami

KH. Jafar Shodiq
Pengasuh Ponpes Annidhom
Ust. A. Nidhomudin Najib
Pimpinan Ponpes Annidhom
Ust. Khumaidullah Irfan
Sekretaris Ponpes Annidhom
Muhammad Ilham
Ketua Ponpes Annidhom
Deden Jalaludin A
Santri Putra
Hilman Bustomy
Santri Putra
Indah Permata
Santri Putri
Siti Alifah
Santri Putri

Annidhom Map

Contact

Ponpes Annidhom

Pondok Pesantren Annidhom didirikan dan diasuh oleh al-Mukarom KH. Ja’far Shodiq, beliau adalah Tokoh Kyai/Mubaligh Kondang se-Wilayah III Cirebon, sekaligus sosok ulama/guru yang sabar, komitmen dan penuh tanggungjawab.

Alamat:

Jl. Sekar Kemuning RT.04 RW.03 Karyamulya Kesambi Cirebon 45131.