Namaku Nita (nama samaran), aku anak bungsu dari empat bersaudara. Aku hidup di lingkungan yang tidak terlalu paham dengan agama, meskipun agama yang ku anut adalah islam. Keluargaku tak pernah memaksa ku untuk menuruti piihan mereka, mereka selalu mensupport apapun pilihan yang ku pilih, asalkan aku bahagia dengan pilihanku. Dalam hal ibadah seperti shalat, mereka tak pernah memaksaku untuk Melaksanakannya meskipun terkadang mereka megingatkanku. Dalam hal syariat seperti menggunakan hijab, mereka tak pernah menuntutku untuk mengenakannya meskipun terkadang mereka gerah dengan pakaian ketatku.
Masa kecilku penuh dengan kebahagiaan, suka ria dan canda tawa. Mereka sangat menyayangiku, terbiasa memanjakanku sehingga membuatku menjadi anak yang egois dan pantang mengalah. Apapun yang ku inginkan harus terpenuhi, apapun yang ku minta harus ku miliki. Terserah bagaimana cara untuk memenuhi keinginanku, yang penting semua keinginan ku harus tersedia. Aku tidak ingin menjadi yang kedua di hati siapapun, aku hanya ingin menjadi yang pertama dan terutama dihati siapapun termasuk mereka (keluarga ku).
Dari kecil hingga duduk di bangku SMP, aku nyaman dengan pakaian yang serba mini. Hmm, dibilang mini juga tidak terlalu mini, setidaknya pakaian yang ku kenakan memperlihatkan aurat yang seharusnya tidak patut diumbar. Aku bangga akan hal itu, aku bangga jika kulit mulus ku, hitam rambutku dan lekuk tubuhku diminati dan dipuji laki-laki asing. Bagiku, itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri untukku.
Seseksi apapun aku saat itu, aku juga sempat menggunakan hijab di sekolah dan di masjid (sekedar mengikuti aturan). Aku tidak suka dengan wanita yang berhijab apalagi yang berhijab syari (cadar). Aku gerah dengan pakaian yang longgar dan lebar, menurutku mereka yang seperti itu terlalu ekstrem dan fanatik. Islam itu mudah, lantas untuk apa membuat hidup ini dipersulit.
Hari berganti hari dan waktu terus berlalu. Aku mulai mengenal cinta lewat dia yang Tuhan titipkan untukku sementara, tapi dia tak sebaik yang aku pikirkan. Cinta kami hanya bertahan sekejap, cukup rentang waktu seminggu. Dia meninggalkanku dan memilih wanita lain yang ternyata adalah sahabatku. Pengkhianatan yang sungguh menyakitkan namun tak membuatku jera dalam petualangan cinta. Putus Cinta membuat ku menderita tapi tak membuat ku sadar untuk segera kembali ke Pencipta (taubat). Aku malah mencari dia yang lain yang ku harap bisa membuatku bahagia, ternyata yang ku dapati sia-sia dan hanya menambah luka. Dia yang sekarang tak jauh berbeda dengan dia dulu, sama-sama hidung belang dan sama penebar janji palsu.
Aku memang mengenal istilah pacaran dan mengetahui pacaran itu haram tapi tak paham kenapa Islam mengharamkan pacaran. Sepertinya, Tuhan tak membiarkanku jatuh terlalu dalam, aku masih mengenal batasan agama dan batasan adat dalam pacaran. Tak ada boncengan, tak ada berduaan dan tak ada pegangan. Yang ada hanya smsan, telpon dan ketemuan, itupun pada malam mingguan. Pacaran hanya bertahan sekejap, cukup seminggu saja dan setelah itu dia pergi tak tau arah yang meninggalkanku dengan luka tanpa darah.
Setelah itu tak ada lagi istilah pacaran, bukan karena aku memahami bahwa pacaran itu haram. Hanya saja aku tak ingin penderitaan dan pengkhianatan ini berkelanjutan, cukup dua minggu yang kelewatan. Kemudian aku disibukkan dengan organisasi keislaman, bukan karena ku ingin mempertebalkan iman hanya saja ingin menambah teman disebabkan daku kesepian. Aku tidak terlalu tertarik dengan hal yang berbau keislaman, namun cahaya iman itu selalu datang yang membuatku sedikit tersadar bahwa shalat dan hijab adalah suatu kewajiban.
Perintah shalat mulai ku lakukan meski terkadang sering terlupakan namun tetap ku kerjakan. Perlahan hijab mulai ku kenakan meski hanya untuk bepergian, belum penuh sampai keseharian. Belajar nyaman saat ku kenakan membuat pakaian mini terlupakan. Pakaian ketat membentuk lekuk tubuh masih ku kenakan, setidaknya baju panjang lengan dan hijab mulai aku kenakan.
Gerbang SMA telah menanti ku, masa putih abu-abu akan segera dimulai. Seragam longgar melekat pada tubuh. Tak butuh waktu lama, seragam longgar seketika berubah menjadi seragam bayi. Seragam ketat, membentuk lekuk tubuh dan berukuran sepinggang, merupakan ide dari kakak ku. Selain itu, dilengkapi dengan kerudung tipis yang transparan sehingga dengan mudah orang memandang rambutku secara cuma-cuma.
Awal Hijrah dan Mengkaji Islam ...
Aku baru menduduki kelas XI (2 SMA), ini merupakan titik balik pintu hijrah ku. Hidayah yang selama ini menyapaku tak pernah ku gapai malah ku abaikan. Hidupku terlalu di disibukkan dengan gemerlap dunia, memang senang tapi hati tak tenang. Jenuh dan bosan itulah yang ku rasakan, hidup yang seperti ini tanpa ada landasan keimanan. Terkadang aku iri dengan hidup mereka, sederhana namun gelak tawa selalu menghiasi bibirnya. Berbeda dengan hidupku, lebih dari sederhana namun sulit untuk menciptakan senyum di bibir. Lantas mengapa demikian? Yahh, hidupku hanya berlandaskan hawa nafsu, berbeda dengan hidup mereka yang berlandaskan keimanan.
Hidayah itu datang lewat kakakku, sebut saja namanya Risa (nama samaran) ...
Yang terlebih dulu hijrah dan mengkaji islam. Ia mengenalkan ku dengan wanita yang longgar bajunya, lebar kerudungnya, dan lembut tutur katanya, ramah sikapnya dan nyaman berada didekatnya. Kakak itu bernama Sinta (nama sasaran). Aku mengikuti kajian bersama dengan empat orang sahabatku yang bernama Firli, Reva, Lusi yang dan Noza. Kajian itu dilakukan secara intensif (sekali seminggu) yang rutin aku ikuti bersama sahabatku.
Hijrah butuh proses dan aku sangat menikmati proses itu. Perlahan tapi pasti, aku mulai mengubah penampilan dan sikap. Dari segi penampilan, belajar mencoba menggunakan kerudung secara istiqamah dalam keseharian maupun saat bepergian dan belajar menggunakan pakaian yang longgar meskipun masih belum syari (memakai rok atau celana). Sempat belajar menggunakan gamis meski masih belum nyaman dan terbiasa. Sehingga pada suatu ketika aku memantapkan diri untuk menggunakan gamis secara istiqamah (termasuk seragam sekolah yang di sulap menjadi gamis). Dari segi sikap, rutin melaksanakan amalan wajib dan melaksanakan amalan sunah serta dilengkapi dengan amal kebaikan lainnya.
Kajian intensif berjalan lancar setiap minggu nya, pembahasan yang dibahas sangat menarik mengenai islam. Banyak pemahaman islam yang aku dan mereka dapati dari kajian, banyak perjuangan yang kami hadapi bersama. Termasuk aku yang terkadang menjadi gojek bagi mereka, antar jemput hanya untuk pergi ke kajian. Tapi itu tak masalah bagiku, asalkan sahabatku tetap semangat untuk pergi ke pengajian. Apapun halangan yang menghadang dan bagaimana cuaca yang datang, pengajian tetap dilaksanakan. Sekalipun hujan lebat dan petir, pengajian tetap harus dilaksanakan. Saat itu keadaan aku dan mereka basah kuyup ketika tiba di tempat pengajian namun tak sedikit pun mereka ragu untuk melanjutkan pengajian. Hari berganti hari, semangat aku dan mereka perlahan mulai luntur oleh kesibukan dunia. Yah, kami terlalu disibukkan oleh aktivitas sekolah, semangat itu telah digoyahkan oleh sejumlah kerikil kecil. Pilihan terakhir, kami lebih memilih menghentikan kajian dan fokus pada aktivitas sekolah.
Tak butuh waktu lama, hariku dilalui tanpa ada lagi aktivitas kajian. Hal ini membuat diriku hampa, tak ada lagi siraman rohani yang menyirami jiwa dan ragaku. Rasanya, waktuku berlalu sia-sia jika tidak dihiasi dengan pengajian. Aku tak ingin berdiam diri seperti, nikmat hidayah itu inginku rasakan kembali. Pilihan terbaik adalah melanjutkan kajian lagi, dan alhamdulillah Allah pertemukan dengan sahabat kajian yang baru.
Tantangan itu mulai datang ...
Memilih jalan dakwah itu bukanlah pilihan yang mudah. Akan banyak rintangan dan tantangan yang menghadang. Konsekuensi dalam pilihan ini adalah menyebarkan dakwah ke seluruh dunia, agar gelora dakwah itu tidak dirasakan oleh diri sendiri saja melainkan juga dirasakan oleh orang lain. Rasanya, waktuku berlalu sia-sia jika tidak dihiasi dengan pengajian. Aku tak ingin berdiam diri seperti, nikmat hidayah itu inginku rasakan kembali. Pilihan terbaik adalah melanjutkan kajian lagi, dan alhamdulillah Allah pertemukan dengan sahabat kajian yang baru.
Tantangan itu mulai datang ...
Memilih jalan dakwah itu bukanlah pilihan yang mudah. Akan banyak rintangan dan tantangan yang menghadang. Konsekuensi dalam pilihan ini adalah menyebarkan dakwah ke seluruh dunia, agar gelora dakwah itu tidak dirasakan oleh diri sendiri saja melainkan juga dirasakan oleh orang lain. Memang pilihan ini tidaklah mudah, namun harus tetap dipilih. Karena memilih jalan dakwah adalah suatu kewajiban yang harus diemban setiap muslim. Rintangan dan tantangan itu pasti ada, Rasulullah dan para sahabat sudah mengalami, apalagi aku tentu akan mengalami hal yang sama. Apa yang ku alami sekarang tak seberapa apa yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat dulu.
Keluargaku, khususnya mama tak menyukai hijrah ku. Aku dibilang fanatik, ektrim dan radikal. Pakaian syar'i ku dihina seperti orang hamil dan wajahku diklaim lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Memang pilihan ini tidaklah mudah, namun harus tetap dipilih. Karena memilih jalan dakwah adalah suatu kewajiban yang harus diemban setiap muslim. Rintangan dan tantangan itu pasti ada, Rasulullah dan para sahabat sudah mengalami, apalagi aku tentu akan mengalami hal yang sama. Apa yang ku alami sekarang tak seberapa apa yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat dulu.
Keluargaku, khususnya mama tak menyukai hijrah ku. Aku dibilang fanatik, ektrim dan radikal. Pakaian syar'i ku dihina seperti orang hamil dan wajahku diklaim lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Aku tak diperbolehkan lagi untuk ke kajian, fasilitas yang diberikan pun ditahan. Belum lagi kata-kata tetangga yang mengatakan bahwa aku mengikuti organisasi sesat. Tidak sampai disitu, teman-teman yang dulu nya akrab perlahan meninggalkanku.
Dengan hijrah ini, aku tersadar bahwa Allah ingin menyeleksi orang-orang yang berada disekitarku, dan yang terbaik lah Allah titipkan padaku. Tantangan itu terus datang dan tak pernah berhenti sampai sekarang. Tapi allahmdulillah, Allah masih memberikan keimanan yang kokoh untuk ku sehingga masih bertahan di jalan ini. Aku ingin terus bertahan dijalan ini dan takkan berhenti, sampai Allah memanggilku untuk selama-lamanya.
No. Urut: 3
Tanggal: 26/11/2018 23:39

0 comments:
Post a Comment